
tulisan ini di tulis oleh "angin", Ia adalah seseorang yang slama ini menemani "daun" dan bernyanyi, meramaikan dunia "daun" yang sepi setelah dilepaskan "pohon"....."daun" yang kini telah tumbuh di "pohon" yang lain....namun seperti ditulis "angin", ia ttp mempunyai bahasanya tersendiri dalam menghadapi situasi yang "tidak baik" yaitu dengan diam....
-------------------------------------------------------------------------------------
Cerita Tentang
ia bersuara lirih atas apa yang sedang terceritakan,
nafasnya kali ini benar tak utuh..
sedari tadi ia hanya memegang dada tempat hati itu berada..
kutahu sebenarnya ia ingin sekali menangis,
menangisi sesuatu yang rasanya menyesakkan, menggores luka.
ya ia ingin sekali melakukan pengakuan jika hatinya telah sangt lelah..
namun seperti biasa, seperti ia yang sebelumnya..
diam, ia diam dalam keterkejutan yang tak lucu.. menurutnya..
lalu..
ia berjalan kerahku, sambil berkata..
"maukah kau menemaniku menari, satu lagu saja"
ia berucap itu sambil tersenyum,
sebuah senyum yang lembut dan itu menarikku untuk mengiyakan,
aku menganggukan kepala atas apa yang ia minta..
lalu ia menarik lengaku, mengajakku berlari ketengah ilalang yang kuning..
"ayo, kemarikan tanganmu yang satunya" katanya.
dan, ya seperti yang telah di ketahui, kami menari, berdansa dalam ketidakbisaan kami. hanya memaksa. tubuh kami mengikuti apa yang kami minta.
waktu berjalan, peluh jatuh dan kukatan padanya..
"aku lelah, bisakah kita istirahat sebentar?"
ia tersenyum, dan memberikan ijin itu padaku..
namun, ia tak berhenti.. terus menari.. hingga..
tak hanya peluh yang jatuh didahinya,
ada bulir air yang jatuh dari sudut matanya..
dan memang luka itu tak kunjung kering..
mungkin angin pun tak mampu mengeringkan apa yang sebelumnya sangt basah..
ia menangis dalam tariannya yang entah menari apa..
dan, akhirnya ia jatuh..
kakinya terluka, memar merah..
air yang jatuh dari sudut matanya kian banyak..
ya, diwajah manisnya terbentuh aliran tersendiri..
"sekali lagi kulihat sedih itu menguras sesuatu yang kukira takan pernah kulihat lagi" ucap hati.
kubertanya padanya.."kamu tak apa2?"
hanya tersenyum, namun kulihar rasa perih tergambar dari satu sudut senyum yang tak mampu ia tutup oleh manisnya senyum itu..
"berkatalah, mungkin itu bisa lebih melegakan" kataku padanya..
lalu...
"aku hanya ingin bahagia, apakah itu terlalu mahal untukku? aku ingin berhenti menangis dan menangisi luka. apakah aku hanya ada untuk terluka?"
aku diam, pertanyaan yang sama.. seperti dulu..
"aku tahu ada yang terasa letih dihatimu (sambil menunjuk letak hatinya), aku tahu mungkin kau takan lagi percaya akan hidup yang bisa membahagiakanmu, namun mungkin hanya ini yang bisa kukatakan; jika akan selalu ada keajaiban2 kecil untukmu, dan kuberdoa salah satunya bisa mendatangkan rasa damai di hatimu..." ucapku sambil tersenyum.. ^_^
angin berhembus, menggoyangkan ilalang disekitar kami..
dan, daun-daun dari sebuah pohon yang tak jauh dari tempat kami.. berjatuhan..
"kamu lihat, mungkin kamu berkata jika hidupmu seperti halnya daun-daun itu. namun kamu mesti tahu, kamu berbeda dari mereka.. cinta dihatimu akan tetap ada, akan tetap mengalir lewat pembuluh darahmu yang selalu basah.. kamu hanya kehilangan seseorang, bukan cinta itu sendiri.. jadi berbeda dengan daun, saat ia jatuh karena mengikuti hembusanku, maka ia kadang dilupakan.. namun, kamu.. akan selalu ada yang datang, mengganti, dan mungkin yang kali itu akan benar mengembangkan sayapmu.. jadi tersenyumlah.. bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri.." ucapku
kulihat ia masih diam mendengar kalimatku yang rasanya diluar kebiasan..
lalu..
"sebentar, tunggu aku disini..."
"mau kemana?" tanyanya
belum sempat menjawab aku telah berhembus terbang...
beberapa menit berlalu..
"ini, siapa tahu ini sedikit bisa menghiburmu"
"apa ini..?" tanyanya
"saat malam datang, saat rasa sepi datang dimalammu yang sediri..kamu akan tahu apa yang ada didalam toples ini" jawabku sambil tersenyum padanya...
sore pun datang, tanpa kami sadari langit mulai terlihat memerah..
"kamu ingat kalimat yang pernah kamu tulis, jika kamu ingin menjadi senja.. ya sesuatu yang menurutmu keberadaannya akan selalu dirindu, untuk datang, untuk menjelang, esok dan esoknya lagi.." ucapku sambil menatap langit barat yang berwarna merah dan kuning keemasan.
ia tersenyum mendengar itu, lalu "ya aku ingin menjadi senja"
"kalau begitu, maka jadilah itu... kamu pasti bisa..." ucapku lagi.. ^_^
kami berdua, berdiri pada sebuah panorama dunia.. senja..
angin berhembus melewati kami.. ilalang yang bergoyang pun menjadikan semuanya terlihat berbeda..
"hey, maukah kuajak melintas semesta, jika iya maka aku akan menjadi sayap bagimu..?" tanyaku padanya dengan tetap melihat senja..
ia hanya tersenyum mendengar itu.. lalu "dari tadi kata2mu tetap saja melow, dasar penggombal..."
dan mendengar itu, aku, dia... "hahahaahhaha" tertawa bersama..
------------------------------------------------------------------------------------
"untuk angin terimakasih telah menemani dan begitu mengerti daun" ^_^
tulisan terakhir....
15 tahun yang lalu
.jpg)
hehehehe.........
mungkin karena angin sangant paham daun itu seperti apa...